Selasa, 13 April 2010

KELEMAHAN PENILAIAN TES PILIHAN GANDA


BAB I
PENDAHULUAN
Untuk mengetahui seberapa jauh peserta didik telah memiliki kompetensi dasar perlu dikembangkan suatu sistem penilaian. Sistem penilaian yang dilakukan harus mencakup seluruh kompetensi dasar dan sesuai dengan indikator yang sudah ditetapkan guru. Sistem harus berkelanjutan dalam arti semua indikator ditagih, kemudian hasilnya dianalisis untuk menentukan kompetensi dasar yang telah dimiliki dan yang belum , serta mengetahui kesulitan peserta didik. Untuk itu digunakan berbagai tehnik penilaian dan ujian, yaitu : pertanyaan lisan di kelas, kuis, ulangan harian, tugas rumah, pengamatan dan sebagainya.
Salah satu tehnik penilaian yang umum digunakan adalah penilaian tertulis. Penilaian secara tertulis merupakan tes yang soal dan jawabannya diberikan kepada peserta didik dalam bentuk tulisan. Dalam menjawab soal peserta didik tidak selalu merespon dalam bentuk menulis jawaban , tetapi dapat juga dalam bentuk yang lain seperti memberi tanda, mewarnai, menggambar, dan sebagainya.
Bentuk soal tes yang dapat digunakan adalah sebagai berikut :
- Pilihan ganda
- Uraian objektif
- Uraian non-objektif
- Jawaban singkat
- Menjodohkan
- Performans
- Portfolio

Bentuk pilihan ganda dapat mencakup banyak materi pelajaran , penskorannya objektif, dan bisa dikoreksi dengan komputer. Namun terdapat beberapa kelemahan , yaitu :
- Membuat butir soal pilihan ganda yang berkualitas baik cukup sulit
- Peluang kerja sama antar peserta tes sangat besar.
- Peserta didik cenderung menerka jika tidak mengetahui jawaban





BAB II
ISI
A.Penilaian Bentuk Tes Tertulis Objektif
Penilaian adalah suatu proses sistematis yang mengandung pengumpulan informasi , menganalisis, dan menginterpretasi informasi tersebut untuk membuat keputusan-keputusan (Kunandar, 2007 )
Penilaian hasil belajar peserta didik yang dilaksanakan mengacu pada standar kompetensi lulusan untuk seluruh mata pelajaran atau kelompok mata pelajaran, yang mencakup sikap, pengetahuan dan ketrampilan (Departemen Pendidikan Nasional, 2008) . Prinsip penilaian yang penting adalah akurat, ekonomis, dan mendorong peningkatan kualitas pembelajaran.
Beragam tehnik dapat dilakukan untuk mengumpulakn informasi tentang kemajuan belajar peserta didik, baik yang berhubungan dengan proses belajar maupun hasil belajar. Tehnik pengumpulan informasi tersebut pada prinsipnya adalah cara penilaian kemajuan peserta didik berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dicapai. Penilaian kompetensi dasar dilakukan berdasarkan indikator-indikator pencapaian kompetensi yang memuat satu ranah atau lebih. Untuk mendapatkan informasi yang dimaksud ada tujuh tehnik yang dapat digunakan, yaitu penilaian unjuk kerja, penilaian sikap, penilaian tes tertulis, penilaian proyek, penilaian produk, penggunaan portofolio dan penilaian diri.
Bentuk tes tertulis yang digunakan di sekolah dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu tes objektif dan tes non-objektif. Objektif di sini dilihat dari sistem penskorannya,yaitu siapa saja yang memeriksa lembar jawaban tes akan menghasilkan skor yang sama. Tes non-objektif adalah tes yang sistem penskorannya dipengaruhi oleh pemberi skor. Dengan kata lain tes objektif adalah tes yang sistem penskorannya bersifat objektif, sedang tes non-objektif sistem penskorannya dipengaruhi oleh subjektivitas pemberi skor.
Ada dua bentuk soal tes tertulis, yaitu :
a. Soal dengan memilih jawaban
- Pilihan ganda
- Dua pilihan (benar-salah, ya-tidak)
- menjodohkan
b. Soal dengan menyuplai jawaban
- Isian atau melengkapi
- Jawaban singkat atau pendek
- -Soal uraian.
Tingkat berpikir yang digunakan dalam mengerjakan tes harus mencakup mulai yang rendah sampai yang tinggi, dengan proporsi yang sebanding sesuai dengan jenjang pendidikan. Pada jenjang pendidikan menengah, tingkat berpikir yang terlibat sebaiknya terbanyak pada tingkat pemahaman , aplikasi, dan analisis
Dari berbagai alat penilaian tertulis, tes memilih jawaban benar-salah, isian singkat, dan menjodohkan merupakan alat yang hanya menilai kemampuan berpikir rendah, yaitu kemampuan mengingat (pengetahuan). Tes pilihan ganda dapat digunakan menilai kemampuan mengingat dan memahami, serta mengenal kembali fakta-fakta , memahami hubungan antar dua hal atau lebih, dan mengaplikasikan prinsip-prinsip.
Pro kontra terhadap tes bentuk objektif sangat menonjol di kalangan dunia pendidikan. Sebagian bahkan menuduh bahwa tes ini menjadi penyebab rendahnya mutu pendidikan Indonesia. Pilihan ganda mempunyai beberapa kelemahan seperti diurai pada pendahuluan , sehingga kurang dianjurkan pemakaiannya dalam penilaian kelas karena tidak menggambarkan kemampuan peserta didik yang sesungguhnya. Namun begitu tes objektif tetap saja dipergunakan untuk mengetahui sejauh mana hasil belajar peserta didik, ini tentulah karena terdapat nilai guna atau kelebihan-kelebihan pada tes objektif tersebut.

B.Kelemahan dan Kelebihan Tes Objektif
Kunandar (2007 ), lebih rinci mengurai beberapa kelemahan dan kelebihan tes objektif . Kelemahannya adalah sebagai berikut:
1. Pada umumnya soal tes objektif hanya tepat digunakan untuk menilai kemampuan mengingat kembali, mengenal kembali, mengasosiasikan antar dua hal, memahami hubungan dan mengaplikasikan prinsip-prinsip.
2. Dapat membuat siswa tidak terbiasa mengemukakan ide secara tertulis dengan menggunakan kata-kata sendiri.
3. Kemungkinan untuk menebak jawaban besar sekali dan sulit untuk dilacak
4. Proses berpikir siswa tidak dapat diikuti sebab yang dilihat hanyalah pilihan-pilihan jawaban yang dipilih.
5. Memungkinkan siswa menyontek dengan mudah.
6. Tidak mudah membuat soal yang berkualitas. Dalam hal ini butir soal harus mencapai sasarannya yaitu dapat mengukur kemampuan peserta didik yang meliputi ranah kognitif, afektif dan psikomotorik.

Sedangkan kelebihan dari tes objektif ini adalah:
1. Tugas-tugas yang dilakukan oleh siswa sudah pasti dan jelas.
2. Jumlah soal cukup besar sehingga dapat mewakili semua kompetensi yang diukur.
3. Kunci jawaban dapat dipersiapkan secara pasti dengan soal-soal yang disusun secara sistematis.
4. Kunci jawaban bersifat mutlak sehingga tidak menimbulkan subjektivitas.
5. Tidak ada kemungkinan bagi siswa untuk mengemukakan hal-hal yang tidak relevan dengan persoalan.
6. Dapat digunakan untuk menilai hasil belajar siswa dalam jumlah banyak dan mudah serta cepat dalam koreksi jawaban.


C.Mengatasi Kelemahan Tes Objektif Pilihan Ganda
Salah satu bentuk dari tes objektif adalah pilihan ganda. Seperti juga bentuk tes yang lain, mempunyai sisi lebih dan kurang bahkan dituding penyebab rendahnya mutu pendidikan Indonesia. Memang untuk membuat butir soal yang berkualitas, menghindari siswa bekerja sama dan menghindari siswa menebak jawaban, mungkin sulit.
Karena itu untuk membuat butir soal yang presentatif dan berkualitas, sebaiknya mengikuti pedoman utama pembuatan butir soal bentuk pilihan ganda yaitu:
1. Pokok soal harus jelas
2. Pilihan jawaban homogen dalan arat isi
3. Panjang kalimat pilihan jawaban relatif sama
4. Tidak ada petunjuk jawaban benar
5. Hindari menggunakan pilihan jawaban : semua benar atau semua salah
6. Pilihan jawaban angka diurutkan
7. Semua pilihan jawaban logis
8. Jangan menggunakan negatif ganda
9. Kalimat yang digunakan sesuai dengan tingkat perkembangan peserta tes.
10. Bahasa Indonesia yang baik dan baku.
11. Letak pilihan jawaban benar ditentukan secara acak.(Pedoman Umum Pengembangan Sistem Penilaian , 2003)
12 Tingkat berpikir yang diukur bisa lebih tinggi tergantung pada kemampuan pembuat soal.
13 Terdapat butir soal yang merefleksikan ranah psikomotorik, misalnya mengenai langkah-langkah percobaan di laboratorium.
14 Terdapat butir soal yang merefleksikan ranah afektif, misalnya mengenai pencemaran lingkungan.
Untuk menghindari siswa bekerja sama, perlu dilakukan :
1. Pengawas ujian teliti dalam melakukan pengawasan selama ujian berlangsung.
2. Memberikan soal yang berbeda tipe (urutan soal beda, isi sama) bagi peserta yang posisinya berdekatan.
Untuk menghindari jawaban menebak, adalah dengan pemberitahuan terlebih dahulu bahwa jawaban yang salah akan diberi skor negatif. Dengan cara ini peserta akan bersungguh-sungguh mencari jawaban benar.
Cara penskoran tes pilihasn ganda ada dua, yaitu:
1. Penskoran tanpa koreksi terhadap jawaban tebakan
Skor = B/N x 100
B = banyak butir yang dijawab benar
N = banyaknya butir soal
Contoh : Banyak soal tes ada 40 butir.
Banyak jawaban yang benar ada 23
Jadi skor yang diperoleh peserta didik adalah
Skor = 23 /40 x 100
= 575

2. Penskoran dengan koreksi terhadap jawaban tebakan
Skor = [ B- (S/P-1) : N ] x 100
B = banyaknya butir soal yang dijawab benar
S = banyaknya butir soal yang dijawab salah
P = banyaknya pilihan jawaban tiap butir
N= banyaknya butir soal
Butir soal yang tidak dijawab diberi skor no
Contoh : Banyak soal tes 40 butir dengan 5 pilihan tiap butir
Banyaknya jawaban benar ada 20
Banyaknya jawaban salah ada 12
Tidak dijawab ada 8
Skor = [ 20- (12/5-1) : 40 ] x 100
= 425






BAB III
KESIMPULAN
Setelah mengkaji permasalahan dengan mengutip pendapat para ahli dan atas gagasan penulis, disimpulkan bahwa :
- Tes pilihan ganda bisa mencakup banyak materi pelajaran , penskoran objektif, dan bisa dikoreksi dengan komputer.
- Terdapat beberapa kelemahan pada bentuk tes pilihan ganda antara lain: membuat butir soal yang berkualitas cukup sulit, memberi peluang bagi peserta didik untuk bekerja sama atau mencontek teman, dan peserta didik cenderung menebak jawaban.
- Kelemahan-kelemahan tersebut dapat diatasi dengan cara-cara berikut:
Untuk membuat soal yang berkualitas sebaiknya mengikuti langkah-langkah pedoman pembuatan butir soal pilihan ganda .
Untuk menghindari kerja sama peserta tes diperlukan pengawasan yang teliti dari pengawas ujian dan susunan butir soal dibuat berbeda. Sedangkan agar peserta didik tidak menjawab dengan menebak, maka jawaban yang salah diberi skor negatif.
- Cara penskoran tes ada dua ,yaitu : penskoran tanpa koreksi terhadap jawaban tebakan dan penskoran koreksi terhadap jawaban tebakan.














BAB IV
DAFTAR PUSTAKA

Abdul Ghofur,Dr, dkk, (2003), Pedoman Umum Pengembangan Penilaian,_________
Departemen Pendidikan Nasional, (2008), Bahan/Materi Bintek KTSP SMA Tingkat Kabupaten/Kota, Depdiknas, Jakarta.
Kunandar, (2007), Guru profesional, Jakarta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar